July
01
2021
     12:02

Pemberdayaan Petani Lokal dan Potensi Lahan Setempat Jadi Kunci Rantai Pangan Berkelanjutan di Papua

Pemberdayaan Petani Lokal dan Potensi Lahan Setempat Jadi Kunci Rantai Pangan Berkelanjutan di Papua

PAPUA, 1 Juli 2021 – Batasan jarak kerap menjadi hambatan dalam mengakses komoditas pangan penting. Bagi masyarakat di Kota Jayapura, wilayahnya yang merupakan dataran rendah tidak dapat ditanami beberapa jenis sayuran seperti brokoli, kentang, wortel, sawi putih, dan lain-lain, sehingga mereka perlu mendatangkan pasokan dari Wamena, Kabupaten Jayawijaya, atau bahkan dari pulau lain seperti Sulawesi Utara dan Jawa. Hal ini mengakibatkan sayur-sayuran yang dijual di Kota Jayapura sudah tidak lagi dalam kondisi segar dan harganya cukup tinggi.

Kondisi ini cukup disayangkan mengingat bahwa wilayah Kabupaten Jayapura yang relatif tidak jauh dari Kota Jayapura merupakan dataran tinggi yang ideal untuk ditanami berbagai komoditas sayur-sayuran. Pada sisi lain, petani di dataran tinggi Kabupaten Jayapura seperti di Kampung Klaisu, Distrik Gresi terbiasa memanfaatkan hasil pertanian mereka hanya untuk memenuhi kebutuhan keluarga dan bukan untuk kesejahteraan jangka panjang.

Sebagai perusahaan yang memiliki keahlian selama lebih dari 40 tahun di sektor pertanian, PT Pupuk Kalimantan Timur (PKT) melihat bahwa kondisi ini dapat dimanfaatkan untuk kepentingan masyarakat Papua, baik para petani di Kabupaten Jayapura maupun masyarakat Papua secara lebih luas. Para petani lokal dan lahan pertanian di dataran tinggi Jayapura patut diberdayakan agar dapat menciptakan rantai pangan yang lebih berkelanjutan dengan menjadi pemasok komoditas sayuran segar yang sebelumnya sulit didapatkan oleh masyarakat lokal.

Maka, sejak Februari 2021 lalu, PKT telah menjalankan program pemberdayaan sumber daya manusia dan alam di tanah Papua. Program ini mencakup berbagai upaya, mulai dari pembinaan untuk para petani lokal dalam membudidayakan bibit sayur-sayuran hingga jaminan pembeli hasil panen. Rangkaian upaya ini bertujuan untuk membantu masyarakat Papua khususnya petani lokal agar dapat memanfaatkan lahan pertanian di daerahnya secara lebih efisien dan berkelanjutan. Tahap awal program ini telah melibatkan lebih dari 100 petani lokal serta memanfaatkan tiga hektar lahan di wilayah Klaisu dan Sarmi, Provinsi Papua.  

SVP Sekretaris Perusahaan PKT Teguh Ismartono, mengungkapkan bahwa perusahaan melihat potensi lahan yang bagus dan ideal untuk dilakukan pengelolaan pertanian secara berkelanjutan, sehingga melalui program pemberdayaan masyarakat ini, PKT berkomitmen untuk mengembangkan lahan pertanian secara konsisten.

Namun, di samping itu, program ini diharapkan juga dapat memberikan sumber kesejahteraan baru yang lebih berkelanjutan bagi masyarakat sekitar. Dengan jumlah penduduk sekitar 200 orang (50 kepala keluarga), berjarak sekitar 80 km dari Pusat kota Jayapura atau sekitar 2 jam perjalanan dengan jalur darat, Kampung Klaisu, Distrik Gresi Selatan, Kabupaten Jayapura, merupakan salah satu kampung terisolasi dan tertinggal di wilayah Kab. Jayapura yang sampai dengan saat ini belum teralirkan listrik.

Lebih lanjut, Teguh menjelaskan empat elemen dalam program tersebut yang dilakukan oleh tim PKT untuk menciptakan ekosistem pertanian yang berkelanjutan bagi alam dan masyarakat lokal Papua, antara lain:

Budidaya bibit baru

PKT memberikan pembinaan dan pendampingan mengenai cara membudidayakan bibit sayur-sayuran yang sebelumnya terbilang langka atau sulit diakses oleh masyarakat di wilayah Jayapura. Berada di ketinggian sekitar 600 MDPL, lahan seluas tiga hektar di Kampung Klaisu dimanfaatkan untuk membudidayakan berbagai komoditas unggulan dataran tinggi, seperti bayam, kangkung, sawi, kacang panjang dan buncis. “Kekayaan alam dan kondisi geografis di wilayah kabupaten Jayapura menawarkan berjuta manfaat bagi ekosistem di sekitarnya. Sehingga melalui pemberdayaan ini, kami harap masyarakat dan petani lokal dapat memaksimalkan potensi sektor agraris di wilayah mereka sehingga mampu untuk mendorong ekonomi rakyat, khususnya melalui komoditas sayur - sayuran spesifik dataran tinggi,” jelas Teguh.

Transfer ilmu pengetahuan (transfer of knowledge)

Halaman   1 2 Show All

Release Terkini


2021 © Kontan.co.id A subsidiary of KG Media. All Rights Reserved