August
27
2021
     13:21

Dukung LIN, KKP Gelar Pelatihan Budidaya Ikan Sistem Bioflok

Dukung LIN, KKP Gelar Pelatihan Budidaya Ikan Sistem Bioflok

Ambon, 27 Agustus 2021 – Provinsi Maluku menjadi salah satu daerah penghasil ikan terbesar di Indonesia. Tak heran jika pemerintah menetapkan Provinsi Maluku sebagai Lumbung Ikan Nasional (LIN), yang ditargetkan akan dibangun pada akhir tahun 2021. Guna mendukung hal tersebut, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) melalui Badan Riset Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan (BRSDM KP) menggelar kegiatan Pelatihan Aspirasi Budidaya Ikan Nila Sistem Bioflok, yang dilaksanakan selama dua hari pada 23-24 Agustus 2021.

Diinisiasi oleh Anggota Komisi IV DPR RI, Abdullah Tuasikal, kegiatan pelatihan ini menjadi perhatian pemerintah pusat dalam rangka meningkatkan budidaya ikan air tawar. Budidaya ikan nila sangat penting terutama menerapkan metode bioflok dengan keuntungan padat tebar lebih banyak dengan pengelolaan lebih efisien dalam jangka panjang. Dalam hal ini ia menyampaikan, Provinsi Maluku juga disebut sebagai Lumbung Ikan Nasional dalam pemanfaatan potensi perikanan yang berkelanjutan.

“Adanya kegiatan ini merupakan pemanfaatan potensi perikanan berkelanjutan dan diharapkan dapat memenuhi konsumsi masyarakat. Salah satu tahapan pokok LIN adalah peningkatan kapasitas SDM yang kompeten, dengan harapan masyarakat Maluku menjadi pemain utama sektor perikanan bukan penonton. Untuk itu, budidaya ini perlu dilakukan guna mendukung Maluku sebagai LIN,” ujarnya.

LIN merupakan kawasan penghasil produksi ikan secara berkelanjutan yang diperuntukkan bagi kesejahteraan rakyat sebagai wujud kebijakan ketahanan pangan, dan merupakan pusat pertumbuhan ekonomi perikanan nasional. LIN bertujuan untuk menjamin ketersediaan stok sumber daya ikan yang berkelanjutan, mewujudkan peningkatan ekonomi negara, daerah, dan masyarakat, serta mewujudkan pengelolaan kelautan dan perikanan yang efektif dan efisien.

Ditemui secara terpisah, Plt. Kepala BRSDM KP, Kusdiantoro menyampaikan, kegiatan pelatihan ini digelar untuk mendukung program LIN yang ditargetkan akan selesai pada tahun 2023 mendatang.

“Pelatihan masyarakat ditujukan untuk menyediakan SDM yang berpengetahuan dan terampil, baik secara teknis perikanan maupun manajerial. Harapannya, ketersediaan SDM terampil tersebut akan mengisi kebijakan LIN. Masyarakat terampil menjadi sebuah investasi untuk Pemda Maluku, sehingga keberadaan LIN dirasakan manfaatnya untuk masyarakat setempat,” jelas Kusdiantoro.

Difasilitasi oleh Balai Pelatihan dan Penyuluhan Perikanan (BPPP) Ambon, kegiatan pelatihan ini diikuti sebanyak 100 peserta dari 11 kelompok yang berasal dari Kota Ambon, Kabupaten Maluku Tengah, dan Kabupaten Buru. Peserta pelatihan, terbagi di 10 titik dengan rincian 60 orang berada di Kabupaten Maluku Tengah, 30 orang berada di Kota Ambon, dan 10 orang berada di Kabupatem Buru. Kegiatan ini, didampingi oleh penyuluh perikanan di lokasi masing-masing secara blended learning dengan menerapkan protokol kesehatan.

Pada Pelatihan Aspirasi Budidaya Ikan Nila ini, menggunakan teknologi bioflok karena memiliki banyak keuntungan dalam budidaya ikan khususnya ikan nila. Hal ini, karena prinsip teknologi bioflok memiliki pengontrolan nitrogen anorganik melalui penambahan karbon organik yang akan meningkatkan rasio Carbon (C) atau Nitrogen (N) perairan untuk menumbuhkan bakteri heterotrof. Biomassa bakteri heterotrof kemudian akan membentuk flok bersama dengan mikroba lain.

Kepala Pusat Pelatihan dan Penyuluhan Kelautan dan Perikanan (Puslatluh KP), Lilly Aprilya Pregiwati menyampaikan, ikan nila merupakan salah satu komoditas unggulan dengan tingkat kebutuhan pasar yang terus meningkat. Teknologi bioflok dapat menjadi pilihan untuk meningkatkan produksi sehingga mampu memenuhi kebutuhan pasar.

“Teknologi bioflok menjadi pilihan tepat untuk ikan nila karena budidaya ikan nila sistem bioflok memiliki sejumlah keunggulan, seperti meningkatkan kelangsungan hidup (survival rate/SR) hingga lebih dari 90 persen dan tanpa pergantian air. Pembesaran budidaya ikan nila ini, dengan adanya tambahan bakteri probiotik nantinya akan mengatur bagaimana limbah yang dikeluarkan oleh ikan dapat menjaga kualitas airnya. Air bekas budidaya juga tidak berbau, sehingga tidak mengganggu lingkungan sekitar dan dapat disinergikan dengan budidaya tanaman misalnya sayur-sayuran dan buah-buahan. ,” ujar Lilly.

Halaman   1 2 Show All

Release Terkini


2021 © Kontan.co.id A subsidiary of KG Media. All Rights Reserved