December
02
2019
     11:40

Songsong IK-CEPA, Kemendag Blusukan Guna Fasilitasi Kelancaran Ekspor Mamin Indonesia ke Korsel

Songsong IK-CEPA, Kemendag Blusukan Guna Fasilitasi Kelancaran Ekspor Mamin Indonesia ke Korsel
Publisher
Kementerian Perdagangan Republik Indonesia

Busan, 28 November 2109 - Kementerian Perdagangan blusukan di Korea Selatan guna menyiapkan fasilitasi perdagangan untuk eksportir yang menemukan masalah atau kendala ekspor ke Korea Selatan. Fasilitasi perdagangan ini bertujuan menemukan solusi sehingga dapat memperlancar proses ekspor. Apalagi, Indonesia dan Korsel tengah menuju penandatanganan Perjanjian Kemitraan Ekonomi Komprehensif (IK-CEPA).

Hal ini dikemukakan Direktur Pengembangan Produk Ekspor Kemendag Ari Satria usai mengunjungi perusahaan importir Hanapia Co.,Ltd di Gimhae hari ini, Kamis (28/11). Blusukan ke importir itu merupakan bagian dari rangkaian misi dagang Menteri Perdagangan RI ke Korsel yang berlangsung pada 27—28 November 2019. Turut mendampingi kunjungan lapangan tersebut, Kepala Biro Humas Olvy Andrianita dan Kepala Indonesian Trade Promotion Center (ITPC) Busan Ni Made Kusuma Dewi.

“Kementerian Perdagangan berkomitmen memfasilitasi para eksportir Indonesia yang menemukan berbagai kendala saat melakukan ekspor. Kendala tersebut bisa berasal dari Indonesia atau negara tujuan ekspor. Dengan fasilitas ini, kami harapkan ekspor ke negara-negara tujuan akan menjadi lancar dan cepat saat IK-CEPA mulai berlaku,” jelas Ari.

Dalam kunjungan tersebut, Kementerian Perdagangan mendapatkan masukan dari Hanapia mengenai kendala dalam proses impor produk-produk dari Indonesia ke Korea Selatan, terutama makanan dan minuman (mamin), baik dari produsen besar maupun produksi usaha kecil dan menengah (UKM).

“Hal ini penting sebagai langkah awal identifikasi kendala yang terjadi di lapangan bagi dunia usaha,” imbuhnya.

Menurut pemilik Hanapia Jae Yeon Hwang, sejumlah tantangan dan kendala yang ditemui di antaranya kualitas produk yang perlu memenuhi standar keamanan produk pangan olahan Korsel, standar halal Korsel, standar ISO; serta adanya penggunaan bahan dalam produk mamin yang tidak familiar bagi bangsa Korea, seperti cincau.

Selain itu, lanjutnya, perbedaan logo sertifikasi halal dari berbagai daerah Indonesia ternyata juga dapat menjadi kendala proses masuknya mamin Indonesia ke Korsel.

Menanggapi hal tersebut, Ari menyampaikan, hal yang bisa dilakukan salah satunya yaitu dengan melakukan diskusi kelompok terarah (Focus Group Discussion/FGD) dengan para pemangku kepentingan terkait untuk menyampaikan kendala yang ditemukan sekaligus langkah penyelesaian kendala tersebut.

“Kendala yang dihadapi akan berbeda di negara lain dan dengan komoditas lain. Sehingga diperlukan sinergi baik di dalam Kemendag maupun dengan Kementerian/Lembaga dan para pemangku kepentingan terkait,” ujar Ari.

Kendala lainnya adalah produsen Indonesia yang tidak siap memasok produk maminnya, sehingga pada saat ada permintaan dari importir, stok tidak tersedia. Menanggapi hal ini, Ari mengimbau agar produsen yang sudah menawarkan produknya ke importir bisa menyediakan pasokan secara kontinu agar ekspor tetap terjaga.

“Akan sangat disayangkan jika produk tersebut sudah mulai dikenal dan diminati masyarakat Korsel, namun ketika ada permintaan order selanjutnya, produsen itu tidak memiliki stok. Hal ini perlu menjadi perhatian para eksportir dan produsen Indonesia agar ekspornya bisa terjaga,” jelas Ari.

Temukan Produk Potensial di Trade Expo Indonesia

Hanapia merupakan buyers yang rutin mengunjungi Trade Expo Indonesia (TEI). Pada TEI ke-34 yang berlangsung Oktober 2019 lalu, Hanapia mendapatkan produk nastar dalam kemasan. "Nastar ini digemari masyarakat Korea Selatan," jelas Hwang.

Produk-produk mamin yang diimpor Hanapia saat ini sebagian besar diperuntukkan bagi masyarakat Indonesia di Korsel. Namun, Hwang mengatakan, produk-produk Indonesia juga disukai orang Korsel. "Sebanyak 95 persen dari produk mamin yang diimpor dari Indonesia diperuntukkan bagi masyarakat Indonesia. Sisanya, dikonsumsi masyarakat Korsel dan dari negara lainnya, termasuk bangsa Asia yang berada di Korsel,” jelasnya.

Produk mamin Indonesia, lanjut Hwang, bisa bersaing di pasar Korsel. “Produk mamin Indonesia berkualitas baik dan harganya terjangkau. Cita rasanya juga bisa memenuhi selera orang Korsel," ujarnya.

Saat ini Hanapia mengimpor produk mamin sebanyak 30 kontainer per bulan. Hwang menargetkan di tahun mendatang dapat mengimpor produk Indonesia lebih banyak lagi. "Targetnya 35 kontainer dalam satu bulan," ungkapnya.

Kiprah Hanapia

Hanapia adalah perusahaan importir mamin yang berdiri sejak 2010. Perusahaan ini memiliki gudang seluas gudang 3.800 m 2 dan menyuplai kebutuhan pasar makanan para pekerja migran Indonesia di Korsel yang jumlahnya mencapai 40.000 jiwa.

Produk-produknya antara lain teh dalam kemasan, keripik tempe, sarden, kecap manis, kerupuk, bumbu masak, serta aneka camilan. Ada juga berbagai produk perikanan seperti tuna dan lele serta tempe yang disimpan di ruangan pendingin di gudang Hanapia.


Contact Information 1:
Olvy Andrianita

pusathumas@kemendag.go.id
021-3860371/021-3508711

Release Terkini