November
25
2021
     19:52

Kemendag Apresiasi Proyeksi Indef Dalam Hadapi Tantangan Ekonomi

Kemendag Apresiasi Proyeksi Indef Dalam Hadapi Tantangan Ekonomi

Jakarta, 24 November 2021 – Kepala Badan Pengkajian dan Pengembagan Perdagangan Kementerian Perdagangan Kasan mengapresiasi kontribusi Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) terhadap pertumbuhan ekonomi nasional. Terutama, dalam memberikan masukan dan kritik dalam menghadapi tantangan ekonomi.

Hal ini disampaikan Kasan saat memberikan sambutan pada acara webinar “Proyeksi Ekonomi Indonesia 2022” yang digelar INDEF secara hibrida di Jakarta pada, Rabu (24/11). Hadir sebagai narasumber pada acara ini Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Kemendag Oke Nurwan, Ekonom Senior INDEF M. Nawir Messi, Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Hariyadi Sukamdani, serta Direktur Riset INDEF Berly Martawardaya.

“Diharapkan berbagai hal yang menjadi perhatian, baik dari sisi eksternal maupun internal dapat ditangani bersama. Diharapkan juga INDEF sebagai salah satu lembaga ‘Think Thank’ memberikan banyak masukan dan kritik terhadap Pemerintah ke depan, menjadi hal yang baik terutama melalui proyeksi yang dilakukan,” ujar Kasan.

Kasan menyampaikan, beberapa lembaga internasional telah melakukan berbagai proyeksi, bahkan revisi terhadap pertumbuhan ekonomi, baik pada 2021 maupun 2022. Mengingat, variabel yang mempengaruhi pertumbuhan ekonomi dan global terus bergerak dan tidak bisa dipastikan sesuai dengan yang diharapkan, termasuk dalam penanganan Covid-19.

“Saat ini Indonesia termasuk salah satu negara terbaik dalam penanganan Covid-19. Namun, saat ini kita melihat penanganan Covid-19 di beberapa negara, khususnya di Eropa mengalami lonjakan signifikan dan ini akan mempengaruhi proyeksi ekonomi di tahun ini dan tahun depan,” jelas Kasan.

Sementara dalam paparannya, Oke mengungkapkan, beberapa tantangan dalam pertumbuhan pertumbuhan ekonomi. Pertama, mengenai pandemi Covid-19 yang terjadi secara global menyebabkan setiap negara mengalami penurunan GDP sehingga vaksinasi menjadi solusi untuk menumbuhkan perekonomian.

Kedua, mengenai rantai pasok global. Menurut Freightwaves 2021, terjadi penurunan supir truk dan pekerja di Amerika Serikat. Hal ini meningkatkan keterlambatan pelayaran di AS dan Tiongkok, serta berbagai negara lainnya. Kemudian menyebabkan peningkatan biaya logistik yang cukup tajam dan berpotensi kenaikan inflasi.

“Kenaikan harga juga terjadi pada komoditas super cycle akibat stimulus ekonomi yang dikucurkan di negara maju, nilai tukar dolar yang kian melemah, serta naiknya permintaan di Tiongkok dan negara industri di Asia,” jelas Oke.

Ketiga, kontestasi antara AS dan Tiongkok turut menjadi ancaman pada perekonomian global, khususnya Indonesia. Perang dagang antara AS dan Tiongkok menciptakan peluang ekspor di kedua negara tersebut. “Peluang harus dimanfaatkan pemerintah dengan memperbesar porsi ekspor dari produk-produk unggulan ekspor ke negara terkait,” ucap Oke.

Oke menambahkan, Kemendag telah berkoordinasi dengan kementerian dan lembaga terkait dalam memberikan dukungan program percepatan pemulihan ekonomi nasional. Hal ini dilakukan di antaranya dengan menjaga stabilitas perekonomian nasional baik dari sisi penawaran dan permintaan.

Halaman   1 2 Show All

Release Terkini


2021 © Kontan.co.id A subsidiary of KG Media. All Rights Reserved