May
11
2021
     15:11

Indonesia: Ekonomi Sudah Mencapai Titik Terendah

Indonesia: Ekonomi Sudah Mencapai Titik Terendah

Jakarta, 10 Mei 2021 - Sesuai dengan perkiraan Ekonom DBS, PDB tahunan Indonesia mengalami kontraksi -0,7%, vs -2,2% pada kuartal keempat 2020. Namun, di luar keunikan efek dasar aritmatika, kontraksi itu cukup besar (-0,96% jika dibanding kuartal sebelumnya vs -0,4% pada kuartal keempat 2020). Peningkatan jumlah kasus Covid-19 pada awal 2021 mengharuskan perpanjangan pembatasan setempat sehingga memperlambat laju perekonomian.

Rincian tersebut menunjukkan bahwa ekspor dan peningkatan pasokan (inventory) membantu pencapaian PDB di kuartal pertama 2021, sementara segmen lain menyusut lebih kecil. Konsumsi turun 1,8% dibanding kuartal pertama 2020, setidaknya lebih baik jika dibandingkan dengan minus 2,6% (rata-rata) pada dua kuartal sebelumnya. Konsumsi rumah tangga dan swasta pun turun lebih besar di angka -2,2%, terbukti dengan melemahnya kepercayaan konsumen, penjualan eceran, dan kelambatan pembukaan kembali bidang pariwisata. Belanja pemerintah naik 3% vs 1,8% pada kuartal keempat 2020, menunjukkan bahwa percepatan pencairan dana pemulihan ekonomi akan menopang pertumbuhan.

Pertumbuhan pembentukan modal menyusut -0,2%, pulih secara berarti dari rata-rata -6,3% dalam dua kuartal sebelumnya. Hal tersebut didorong oleh pertumbuhan dalam penyetokan ulang barang, investasi peralatan mesin, kendaraan, dan gedung serta konstruksi. Ekspor bersih menyumbang 0,4 poin persentase (ppt) pada pertumbuhan, lebih rendah daripada empat kuartal terakhir karena pertumbuhan impor juga melambat.

Dukungan fiskal, sektor eksternal, dan kemajuan vaksin - pilar utama pendukung

Selain efek dasar, dukungan kebijakan fiskal, neraca perdagangan yang menguntungkan, dan program vaksinasi - akan menjadi unsur penting untuk mempercepat pertumbuhan pada tahun ini. Belanja fiskal tahunan naik 13,8% pada kuartal pertama 2021, melebihi pendapatan yang disebabkan alokasi lebih tinggi untuk bantuan sosial, subsidi, material, dan belanja modal.

Pada akhir Maret, sekitar 11% dari paket pemulihan ekonomi nasional senilai IDR700 triliun telah dicairkan. Defisit fiskal pada kuartal pertama melebar secara nominal (lihat grafik), jika dibandingkan dengan waktu yang sama pada tahun lalu dan rata-rata empat tahun sebelumnya. Hal itu menunjukkan bahwa sampai saat ini percepatan pencairan dana pemulihan menjadi pertanda baik bagi pertumbuhan.

Jika kecepatan tersebut bertahan, pengeluaran dan konsumsi pemerintah lebih tinggi akan membantu pertumbuhan yang masih dihantui belum pulihnya permintaan dari sisi swasta maupun rumah tangga.

Kedua, ekspor tahunan Indonesia naik 17% pada kuartal pertama 2021, didukung oleh pengiriman nonmigas yang dipimpin oleh pertambangan (tembaga, nikel), dan barang manufaktur (logam dasar, karet, minyak sawit, bahan kimia, dan lain-lain).

Bahkan, saat impor meningkat jika dibandingkan dengan kuartal pertama 2020, ekspor mengalami peningkatan lebih tajam, menyebabkan surplus perdagangan hampir dua kali lipat pada awal tahun. Kinerja perdagangan baik yang diuntungkan oleh perbaikan ekonomi global, terutama Tiongkok dan Amerika Serikat (AS), serta kenaikan harga komoditas utama akan menjadi pertanda baik bagi ekspor bersih sebagai penunjang pertumbuhan serta dinamika transaksi berjalan.

Terakhir, sekitar 13 juta penduduk telah menerima setidak-tidaknya satu dosis vaksin, sedangkan 8 juta di antaranya telah menerima dua dosis (3% dari penduduk).

Halaman   1 2 Show All

Release Terkini


2021 © Kontan.co.id A subsidiary of KG Media. All Rights Reserved