March
09
2021
     19:42

Allianz Indonesia Lewati Tantangan Tahun 2020 dengan Imbal Hasil Kinerja Fund Unit Link yang Tumbuh Positif

Allianz Indonesia Lewati Tantangan Tahun 2020 dengan Imbal Hasil Kinerja Fund Unit Link yang Tumbuh Positif

Jakarta, 9 Maret 2021 – Penyebaran virus Covid-19 yang pertama kali ditemukan pada akhir 2019 di Wuhan, Tiongkok, menyebar secara cepat dan masif ke seluruh penjuru dunia. WHO kemudian menyatakan wabah virus Covid-19 sebagai pandemi global pada bulan Maret 2020. Perubahan pun terjadi di seluruh aspek kehidupan, yang akhirnya berdampak pada ekonomi dunia dan berimbas juga pada pasar modal. 

Pandemi Covid-19 menjadi sentimen utama dalam pergerakan pasar modal sepanjang tahun 2020. Pembatasan gerak akibat lockdown menyebabkan ekonomi melambat, setelah masyarakat diharuskan untuk melakukan segala aktivitas dari rumah saja demi menekan angka penyebaran virus. Hal ini terjadi di berbagai negara termasuk Indonesia, sehingga ketidakpastian ekonomi yang begitu tinggi membuat pasar modal terkoreksi dalam.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sempat menyentuh titik terendah pada tanggal 24 Maret 2020, terkoreksi hingga minus 37,49%. Begitu juga dengan obligasi yang terkoreksi dalam di -3.65% karena adanya arus modal keluar (capital outflows) yang cukup deras, baik di pasar saham maupun obligasi. Pada penutupan tahun 2020 Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih tercatat terkoreksi -5,09% secara year-to-date (ytd) di level 5.979. Kemudian indeks obligasi/IBPA naik 14,38% secara year-to-date (ytd), sedangkan Rupiah sejak awal tahun melemah 1.33% ke level Rp14.050/US$.

Pemerintah seluruh negara di dunia berusaha menyelamatkan masyarakat dari penyebaran virus dan perekonomian negaranya di saat yang bersamaan. Sehingga kebijakan fiskal dan moneter harus diterapkan untuk mengalirkan stimulus yang dapat membantu perekonomian negara masing-masing. Dampak stimulus ini mulai terlihat dengan perbaikan ekonomi di kuartal ketiga 2020, setelah pertumbuhan ekonomi di kuartal kedua terkoreksi cukup dalam.
 
Di tengah pandemi, tahun 2020 juga merupakan tahun politik bagi Amerika Serikat (AS). Periode masa pemilihan menambah volatilitas dan koreksi pada pasar global. Dengan adanya koreksi tersebut, peluang investasi menjadi lebih baik karena investor mulai mengalihkan fokus ke emerging market, terutama Asia.

Terpilihnya Joe Biden menjadi angin segar untuk pasar karena dianggap akan lebih memberikan kepastian melalui janji-janji politiknya untuk perbaikan ekonomi AS, serta diharapkan hubungan dagang Amerika dan Tiongkok akan lebih kondusif.

Di Indonesia, beberapa langkah pun dilakukan oleh pemerintah untuk membantu pemulihan ekonomi dengan menggelontorkan stimulus fiskal dalam program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN), serta melakukan skema pembagian beban atau burden sharing dengan menjaga stabilitas nilai tukar, suku bunga, dan inflasi agar tetap terkendali serta memperhatikan kredibilitas dan integritas pengelolaan ekonomi, fiskal, dan moneter. Omnibuslaw atau RUU Cipta Kerja pun telah berhasil disahkan dan diharapkan dapat  menarik investor asing dan membantu Foreign Direct Investment (FDI) Indonesia.

Selama 2020, Portfolio Manager Allianz Indonesia aktif mengikuti kondisi pasar dan menyesuaikan strategi investasi dengan kondisi pasar yang fluktuatif.  Strategi yang tepat mampu memaksimalkan kinerja fund dan memberikan imbal hasil yang baik.

Selama 2020 fund - fund unit link Allianz lebih unggul dibandingkan tolok ukurnya, seperti Smartlink Rupiah Equity Fund yang mampu memberikan imbal hasil -2,51%, lebih baik dibandingkan tolok ukur IHSG yang -5,09%, Smartlink Rupiah Fixed Income Fund +12,15%, lebih baik dari tolok ukur +9,95%, begitu juga dengan Allisya Rupiah Equity Fund -3.83% lebih baik dari tolok ukur Jakarta Islamic Index di – 9,69%.

“Meskipun kondisi pasar volatil di tengah masa pandemi yang menantang, Allianz Indonesia mencatatkan perkembangan imbal balik investasi yang positif di tahun 2020 dengan total dana kelolaan (Asset Under Management/AUM) sebesar Rp 42,70 triliun atau naik sebesar 6,27% dibandingkan dengan tahun sebelumnya. AUM ini termasuk juga dana kelolaan Dana Pensiun Lembaga Keuangan (DPLK) Allianz. Dana yang dikelola terdiri dari investasi produk unit link sebesar 55%, asuransi jiwa dan kesehatan sebesar 26% dan DPLK sebesar 19%,” kata Ni Made Daryanti, Chief Investment Officer Allianz Life Indonesia.

“Allianz juga secara aktif memilih instrumen investasi yang berkelanjutan baik dari sisi lingkungan, dampak sosial, dan pengelolaan yang baik (Environment, Social & Governance/ESG) sesuai dengan investment guideline yang diterapkan oleh Allianz Group.  Tujuan kami dalam mengelola asset bukan hanya memberikan imbal hasil yang baik, tetapi juga melakukan investasi yang berkelanjutan dan bertanggung jawab dengan memperhatikan faktor ESG,” Ni Made menambahkan.

Halaman   1 2 Show All

Release Terkini


2021 © Kontan.co.id A subsidiary of KG Media. All Rights Reserved