May
21
2019
     15:13

Alibaba Rilis Laporan Keuangan, Perlindungan Hak Atas Kekayaan Intelektual dan Filantropi Tahunan

Alibaba Rilis Laporan Keuangan, Perlindungan Hak Atas Kekayaan Intelektual dan Filantropi Tahunan

Hangzhou, Tiongkok, 20 Mei 2019 – Tidak hanya merilis laporan keuangan tahun fiskal dan kuartal per Maret 2019, pekan lalu, Alibaba merilis laporan perlindungan HAKI dan Filantropi per tahun 2018 yang menunjukkan peningkatan pendapatan dan jumlah konsumen; penonaktifan produk yang melanggar HAKI secara proaktif, dan komitmen terhadap filantropi. Berikut adalah kilasan penting dari ketiga laporan tersebut:

Laporan Keuangan Kuartal dan Tahun Fiskal per Maret 2019

Laporan keuangan Alibaba Group Holding Limited (NYSE: BABA) untuk kuartal dan tahun fiskal yang berakhir pada 31 Maret 2019, menunjukkan perusahaan mencatatkan pendapatan sebesar masing-masing USD13,9 miliar dan USD 56,2 miliar. Perusahaan juga mencatatkan perkembangan konsumen aktif bulanan (MAU) mobile yang tumbuh menjadi 721 juta pengguna. Sementara konsumen aktif tahunan tumbuh menjadi 654 juta konsumen. GMV tahun fiskal 2019 juga menunjukkan hasil positif sebesar RMB5,7 triliun (US$853 miliar), naik 19% dari tahun ke tahun.

“Kami kembali mencatatkan kinerja kuat di kuartal dan tahun fiskal ini, yang didorong oleh pertumbuhan pendapatan tahun fiskal sebesar 51% dan pertumbuhan pesat jumlah pengguna dan engagement di seluruh ekosistem kami. Tidak termasuk dampak dari konsolidasi usaha-usaha yang diakuisisi, pendapatan dapat meningkat 39% dari tahun ke tahun,” ujar Maggie Wu, Chief Financial Officer Alibaba Group.

Informasi lebih lengkap mengenai laporan keuangan ini dapat anda simak melalui link berikut: link.

Laporan Perlindungan HAKI Tahun 2019

Upaya perlindungan Hak Atas Kekayaan Intelektual (HAKI) pemilik merek yang diinisiasikan Alibaba Group tumbuh dengan skala dan efektivitas yang meningkat, menurut Laporan Perlindungan HAKI Tahun 2018 yang dirilis Alibaba pekan lalu (16/5).

Kombinasi teknologi yang makin canggih dan kerja sama yang erat dengan para pemilik merek di platform-platform milik Alibaba sangat penting dalam mewujudkan tingkat keberhasilan tinggi dalam menonaktifkan produk secara proaktif dan reaktif (catatan red: setelah menerima laporan), serta menurunan produk-produk yang diduga melanggar HAKI.

Dalam laporannya Alibaba menyatakan: “Alibaba Group telah berdedikasi dan berkomitmen untuk perlindungan HAKI sepanjang sejarah berdirinya perusahaan, dan tiap tahun, Alibaba berupaya menjadikan keberhasilan tahun sebagai dasar untuk pencapaian lebih baik lagi. Berkat upaya bersama Alibaba dan para pemangku kepentingan HAKI, masing-masing metrik perlindungan HAKI Alibaba menunjukkan peningkatan di tahun 2018”

Menurut laporan ini, peningkatan tersebut merupakan hasil dan makin efektifnya dari program-program perlindungan HAKI Alibaba, antara lain:

96% produk dieliminasi secara proaktif sebelum satu penjualan pun terjadi.
Laporan/permintaan dari pemilik HAKI menurun 32% dari tahun ketahun.
96% laporan/permintaan yang dikirim dihari kerja melalui Intellectual Property Protection Platform (IPP Platform) milik Alibaba diproses dalam 24 jam.
Jumlah produk yang dinonaktifkan sebagai hasil dari laporan konsumen atas dugaan pemalsuan produk turun 70% dari tahun ketahun.
Kolaborasi dengan pemilik merek dan penegak hukum berdampak pada meningkatnya jumlah penahanan hukum dan penutupan lebih banyak fasilitas yang diduga memalsukan produk pada tahun 2018.

“Pertumbuhan tersebut tidak hanya menunjukkan komitmen Alibaba untuk berkolaborasi dengan para pemilik HAKI di era digital, namun juga meningkatkannya pengakuan dari pemangku kepentingan industri tentang peran Alibaba Anti-Counterfeiting Alliance (AACA/Aliansi Alibaba untuk Memerangi Pemalsuan) sebagai komunitas yang penting dan efisien untuk perlindungan HAKI”.

Presiden International Anti-Counterfeiting Coalition (IACC), Bob Barchiesi, dalam pembukaan Konferensi Musim Semi IAAC Kamis lalu (16/5), menyambut baik kepemimpinan Alibaba dalam perlindungan HAKI dan kuatnya kolaborasi Alibaba dengan IACC. “Kami bermitra dengan Alibaba saat para pihak lain menunjukkan keraguan, dan sejarah menunjukkan bahwa pilihan kami (untuk bermitra dengan Alibaba) benar. Kolaborasi IAAC dan Alibaba dalam IACC MarketSafe Expansion Program menonaktifkan ratusan ribu produk yang melanggar HAKI dan menolak akses permanen bagi 15.000 penjual yang beritikad buruk, menurut IAAC.

Tiga Pilar

Dalam laporan perlindungan HAKI, Alibaba mengutip tiga pilar yang menjadi faktor kunci kesuksesan sejumlah inisiatif perlindungan HAKI yang dilakukan perusahaan dalam melindungi merek di berbagai platform milik Alibaba dan menjadikan marketplace Alibaba aman bagi para penjual dan konsumen:

Pemberitahuan dan Langkah Penonaktifan yang Lebih Baik: Platform IPP, yang memungkinkan pemilik merek mengirimkan secara online permintaan perlindungan HAKI mereka, diperbarui pada tahun 2018 untuk memungkinkan pemilik merek melacak status/proses laporan yang diajukan dan respon balasan tertulis dari seller. Alibaba memperluas dukungannya bagi pemilik merek dengan meningkatkan ketersediaan saluran interaksi melalui telepon dan email, serta tutorial dan berbagai materi edukasi berbahasa Ingggris dalam platform IPP, seperti Tanya-Jawab, studi kasus, dan instruksi video. Selain itu: program “Good Faith” (“Itikad Baik”) untuk menonaktifkan produk dari sistem, memudahkan pemilik HAKI yang telah memiliki rekam jejak kesuksesan dari laporan-laporan sebelumya, untuk langsung menjadi anggota Alibaba Anti-Counterfeiting Alliance (AACA) para pemilik merek dan mempermudah syarat untuk bergabung di AACA. Dua kemajuan ini membantu menumbuhkan tingkat keanggotaan selama 44% dari tahun ke tahun per Oktober 2018.
Teknologi Canggih untuk Monitoring Secara Proaktif: Alibaba telah menggunakan teknologi seperti algoritma pengenalan imej dan semantik, monitor dan intersepsi real-time, bio-identification dan algoritma untuk mendeteksi perilaku seller yang tidak normal sebagai cara memerangi produk yang melanggar HAKI dari platform-platform Alibaba. Di tahun 2018, perusahaan juga memulai menganalisa pola emosi dan semantik di kolom komentar terkait produk dan tanggapan negatif konsumen terhadap penjual sebagai informasi awal untuk penelusuran lebih lanjut; menganalisa lalu lintas pengguna dan transaksi penjualan untuk lebih baik dalam mendeteksi aktivitas mencurigakan; dan menggunakan teknologi seperti algoritma pengenalan suara dan semantik, algoritma pengenalan imej dan karakter, untuk memonitor tayangan livestream (siaran langsung yang diakses dalam aplikasi e-commerce) untuk memastikan tidak terjadinya aktivitas pelanggaran HAKI.
Kolaborasi dengan Penegak Hukum: “Penjualan barang palsu di platform online adalah refleksi aktivitas penjualan barang palsu di perdagangan offline,” menurut Alibaba. Jadi di tahun 2018, perusahaan terus melengkapi pengaturan secara online dengan investigasi offline. Kerja sama dengan penegak hukum diperluas ke 31 provinsi, wilayah dan kotamadya di Tiongkok, dan menghasilkan 1.634 laporan dugaan pelanggaran HAKI. Hal ini berkontribusi pada ditangkapnya 1.953 tersangka kriminal and ditutupnya 1.542 fasilitas yang terlibat dalam pembuatan dan distribusi produk-produk yang diduga melanggar HAKI. Nilai total kasus ini diperkirakan mencapai RMB 7,9 miliar.

Laporan ini juga menyoroti peran konsumen dalam memerangi pelaku pelanggaran HAKI, bagaimana Alibaba membantu perusahaan kecil untuk melindungi HAKI-nya, serta peran Alibaba Anti-Counterfeiting Alliance (AACA), yang mengkombinasikan berbagai keahlian teknis dan industri – baik dari pemilik HAKI, asosiasi industri, pemerintah dan penegak hukum - untuk memerangi pelanggaran HAKI di platform-platform Alibaba, tumbuh dari 121 merek dari seluruh dunia, meningkat 30 dari peluncurannya di bulan Januari 2017.

Dalam laporannya Alibaba menyebutkan: “Alibaba memahami bahwa kepercayaan sangat penting bagi kesehatan dan keberlanjutan usaha kami. Produk berkualitas dan orisinil akan selalu menjadi bagian penting dari kepercayaan tersebut, dan dalam peran kami sebagai pemimpin teknologi dunia, Alibaba berkomitmen untuk melindungi HAKI.”

Laporan Filantropi Alibaba Group 2018

Di minggu yang sama, Alibaba Group mengeluarkan laporan filantropinya untuk pertama kali, dengan merinci beragam program sosial perusahaan dan karyawan.

Menurut laporan itu, Alibaba saat ini mengoperasikan tiga platform terkait: Alibaba Philanthropy, Alipay Philanthropy, dan “Each Person Three Hours,” yang menghubungkan calon sukarelawan di Tiongkok dengan organisasi yang membutuhkan bantuan. Selain itu, masing-masing unit usaha juga menggelar inisiatif filantropi masing-masing.

Dalam 12 bulan terakhir, platform Alibaba Philanthropy dan Alipay Philanthropy, bersama dengan 440 juta orang di seluruh Tiongkok yang menggunakan ketiga platform itu, mengumpulkan lebih dari RMB 1,27 miliar ($ 184 juta) dalam sumbangan amal, kata laporan itu. Pada periode yang sama, lebih dari 15 juta orang mendaftar di platform “Each Person Three Hours”, yang mendaftar lebih dari 3,05 juta peluang sukarela dari 937 organisasi nirlaba lokal.

“Di sini, di Alibaba, filantropi adalah inti dari model bisnis kami. Prioritas utama kami adalah memberikan solusi yang efektif dan berkelanjutan untuk masalah-masalah yang dihadapi masyarakat,” kata Sun Lijun, kepala Alibaba Foundation selama upacara untuk mengungkap laporan tersebut. “Melalui tindakan kecil ini, kami berharap untuk menjadi pemangku kepentingan yang bertanggung jawab untuk menghasilkan energi positif, menciptakan dampak besar dan mendorong lebih banyak orang untuk berpartisipasi dalam layanan publik.”

Semangat filantropi itu, lanjutnya, terintegrasi - dan dipraktikkan - di setiap bagian ekosistem Alibaba dan di seluruh struktur perusahaan.

Misalnya, pada tingkat grup, perusahaan pada 2011 mendirikan Alibaba Foundation dan mengumumkan akan mengalokasikan 0,3% dari pendapatan tahunannya untuk mendukung inisiatif tanggung jawab sosial.

Pada akhir 2017, yayasan meluncurkan Dana Bantuan Kemiskinan Alibaba untuk memerangi kemiskinan di pedesaan Tiongkok. Dikelola oleh Ma, dana ini memiliki beberapa area fokus, dengan masing-masing dipimpin oleh seorang eksekutif puncak. Bagi Ma, penekanannya adalah pada pendidikan pedesaan, sementara CEO Daniel Zhang menjadi ujung tombak upaya e-commerce pedesaan melalui teknologi pertanian Alibaba. Wakil Ketua Eksekutif Joe Tsai mengawasi pelatihan kejuruan, dan Lucy Peng, salah satu dari 18 pendiri perusahaan, mempromosikan program kepemimpinan dan pemberdayaan bagi perempuan.

Laporan ini juga mencantumkan beberapa contoh upaya filantropi Alibaba di luar Tiongkok.

Pada tahun 2018, Tmall Global, situs e-commerce lintas batas terbesar Tiongkok, memperkenalkan program "Goods for Good" bagi pedagang asing yang menjual di platform. Program ini memungkinkan pedagang, terlepas dari di mana mereka berada di dunia, dapat menyumbangkan sebagian kecil dari penjualan mereka untuk tujuan sosial. Hingga saat ini, ribuan "Love Packages" - satu kotak perlengkapan sekolah yang dibayar oleh sumbangan itu - telah diberikan kepada lebih dari 50.000 siswa di Nepal, Kamboja dan Myanmar.

Contoh lain adalah program pelatihan “eFounder”. Sejak akhir 2017, lebih dari 130 pengusaha dari 24 negara, termasuk Indonesia, telah mengunjungi kantor pusat global Alibaba di Hangzhou untuk belajar langsung tentang e-commerce dan evolusi digital Tiongkok.

Tentang Alibaba Group - Misi Alibaba Group adalah memudahkan seluruh masyarakat untuk melakukan bisnis di mana saja dan Alibaba bertujuan untuk mencapai pertumbuhan yang berkelanjutan selama 102 tahun. Di tahun fiskal yang berakhir pada 31 Maret 2019, perusahaan mencatatkan pendapatan sebesar USD 56 miliar.

 


Contact Information 1:
Dian Safitri

dian.safitri@alibaba-inc.com
+6281 6191 6408

Release Terkini