March
26
2022
     07:08

Sidang 1st Energy Transitions Working Group (ETWG) Tuntas, Tiga Isu Utama Disepakati

Sidang 1st Energy Transitions Working Group (ETWG) Tuntas, Tiga Isu Utama Disepakati
ILUSTRASI. Salah satu cara menghasilkan energi bersih

Reporter: Filemon Agung | Editor: Anna Suci Perwitasari

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Sidang 1st Energy Transitions Working Group (ETWG)  tanggal 24-25 Maret 2022 di Yogyakarta, yang dibuka secara resmi oleh Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arifin Tasrif telah selesai pada Jumat (25/3).

Selama persidangan, isu aksesibilitas energi, peningkatan teknologi energi bersih, dan peningkatan pembiayaan energi yang menjadi tiga pilar ETWG G20 Presidensi Indonesia disepakati secara aklamasi menjadi agenda ETWG G20 tahun ini.

Chair ETWG Yudo Dwinanda Priaadi melaporkan, komitmen bersama mencapai Net Zero Emission (NZE) sekaligus merealisasikan target tujuan pembangunan (Sustainable Development Goals/SDGs) di tahun 2030.

"Anggota G20 menyatakan pentingnya memiliki rencana bersama yang jelas dan ambisius untuk mencapai SDGs 2030. Untuk mencapai hal ini, kerjasama dan kemitraan teknologi sangat penting," kata Yudo dalam keterangan resmi yang diterima Kontan.co.id, Jumat (25/3).

Anggota G20, juga sedang memperkuat pentingnya keamanan dan ketahanan rantai pasok energi di tengah tantangan ketidakpastian pasar ekonomi global. Upaya ini juga bertujuan untuk menjamin keamanan energi dan proses transisi energi.

Baca Juga: Bandara Internasional Yogyakarta Siap Menyambut Delegasi G20

Transisi energi yang inklusif dan adil (just transitions) juga mendapat perhatian penuh selama sidang ETWG. Semua jenis teknologi dan bahan bakar penting untuk dipertimbangkan dalam mengakselerasi transisi energi sekaligus mempertimbangkan manfaat ekonomi.

Presidensi G20 juga berkomitmen dan berkoordinasi merumuskan permasalahan aksesibilitas dan peningkatan teknologi.

"Ini akan membantu anggota G20 untuk memprioritaskan aksi dalam meningkatkan investasi, mempercepat kemajuan teknologi dan mengamankan akses dan transisi dalam konteks yang beragam," imbuh Yudo.

Dia menambahkan, rencana aksi G20 dalam memperluas kerja sama internasional. Salah satu yang menjadi sorotan adalah teknologi dekarbonisasi pembangkit.

"Indonesia sebagai Presiden G20 ingin mengidentifikasi area kerja sama baru. Kami sepakat teknologi untuk mendekarbonisasi sektor pembangkit tenaga listrik dan industri lain itu sangat penting dan harus menjadi rencana aksi utama sebagai pemenuhan komitmen para pemimpin," tuturnya.

Baca Juga: Perkuat Budaya, Kemendikbudristek Bersinergi dengan Pemda dan Komunitas Maluku Utara

Tak kalah pentingnya, rencana aksi G20 juga akan menekankan pentingnya memobilisasi pendanaan transisi energi, di samping prioritas pada aksesibilitas dan teknologi. Hal ini sejalan dengan arahan Presiden Joko Widodo tentang pentingnya pendanaan dalam akselerasi transisi energi, dan G20 menjadi forum penting untuk memobilisasi kebutuhan tersebut.

Tanpa adanya dukungan penuh seluruh pemangku kepentingan untuk menyediakan pendanaan, transisi energi tidak dapat on track.

Yudo melanjutkan, semua negara G20 sepakat bahwa ETWG harus menghasilkan deliverable yang lebih konkrit. Indonesia memaparkan rencana kerja ETWG yang disambut baik oleh seluruh delegasi.

Hasil sidang ETWG-1 akan ditinjau perkembangannya pada pertemuan ETWG ke-2 bulan Juni 2022 di Labuan Bajo. "Harapannya pada saat ETWG-3 bulan September di Bali, kami akan menyepakati output dan komunike Menteri Energi G20," tutup Yudo.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Release Terkini


2022 © Kontan.co.id A subsidiary of KG Media. All Rights Reserved