September
25
2022
     17:31

Indonesia-Afrika Selatan Menjajaki Kerja Sama Sektor Energi, Hilirisasi, dan Otomotif

Indonesia-Afrika Selatan Menjajaki Kerja Sama Sektor Energi, Hilirisasi, dan Otomotif
ILUSTRASI. Indonesia-Afrika Selatan sedang menjajaki PTA yang bertujuan untuk membuka peluang pasar.

Reporter: Vina Elvira | Editor: Wahyu T.Rahmawati

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pemerintah Indonesia terus berupaya meningkatkan kerja sama ekonomi yang komprehensif dengan sejumlah negara, termasuk aktif menjajaki Preferential Trade Agreements (PTA) dengan pasar non-tradisional. Salah satu negara potensial yang dibidik adalah Afrika Selatan.

“Dapat dikatakan bahwa saat ini kedua negara sedang menjajaki PTA yang bertujuan untuk membuka peluang pasar. PTA merupakan upaya penguatan industri manufaktur kedua negara, khususnya di sektor peralatan militer, produk makanan olahan, dan pertanian,” kata Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita, dalam siaran pers, Minggu (25/9). 

Pada Kamis (22/9), Agus mendampingi Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto bertemu dengan Minister of Trade, Industry and Competition Afrika Selatan Ebrahim Patel di sela-sela kegiatan Trade, Industry, and Investment Ministerial Meeting (TIIMM) dalam rangkaian agenda Presidensi G20 Indonesia di Bali.

Pada pertemuan tersebut, Airlangga mengungkapkan bahwa transisi energi menuju rendah karbon merupakan aspek penting untuk mencapai ketahanan iklim yang mendukung lingkungan hidup dan penciptaan lapangan pekerjaan.

Baca Juga: Terkonfirmasi, Raja Salman akan Menghadiri Pertemuan G20 di Bali

“Upaya transisi energi Indonesia menuju ramah lingkungan dilakukan melalui berbagai kebijakan nasional seperti penggunaan kendaraan berbasis listrik dengan mendukung pengembangan baterai EV yang didukung oleh bahan baku seperti Nikel yang dimiliki Indonesia,” tutur dia.

Afrika Selatan memiliki kerja sama Just Energy Transition Partnership dengan Prancis, Jerman, Inggris dan Amerika Serikat. Pengalaman tersebut dapat dipelajari dan best practice bagi Indonesia dalam menemukan model yang sesuai untuk menangani isu perubahan iklim di Indonesia.

Agus menambahkan, Indonesia dan Afrika Selatan sama-sama kaya akan produk mineral dan logam mulia. “Kami mencoba untuk secara moderat menerapkan kontrol terhadap ekspor, terutama ekspor bahan baku, dengan harapan dapat mendorong hilirisasi produk mineral tersebut menjadi produk dengan nilai tambah yang lebih tinggi,” tambahnya. 

Baca Juga: Bertemu Mendag Kanada, Mendag Zulkifli: Perkuat Hubungan Dagang di Berbagai Forum

Melalui kebijakan hilirisasi nikel misalnya, telah berhasil mendorong tumbuhnya smelter berbasis nikel, yang menghasilkan produk NPI/FeNi sehingga meningkatkan kapasitas dalam pengembangan industri stainless steel. Enam tahun lalu, ekspor dari nikel hanya US$ 1,1 miliar. Sedangkan, di tahun 2021 sudah mencapai US$ 20,9 miliar. Lompatan nilai tambahnya hingga 19 kali.

Selain kerja sama energi dan pertambangan, juga disinggung potensi kerja sama halal dan industri otomotif beserta komponennya. Pada pertemuan tersebut, kedua pihak sepakat untuk berbagi pengalaman dan menciptakan peluang kerja sama serta melanjutkan komunikasi secara reguler. Dilakukan juga work with local industry agar tercipta nilai investasi yang seimbang.

Investasi Afrika Selatan di Indonesia selama tahun 2021 sebesar US$1,46 juta dengan total 14 proyek. Sementara itu, total perdagangan nonmigas Indonesia dengan Afrika Selatan pada tahun 2021 mencapai US$ 2,8 miliar atau meningkat 122% dibandingkan tahun 2020 (US$ 1,3 miliar).

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Release Terkini


2022 © Kontan.co.id A subsidiary of KG Media. All Rights Reserved