Dialogue AJIIP X Kontan: Transformasi Berkelanjutan dan Masa Depan Kebijakan ESG
Reporter: Tim KONTAN | Editor: Ridwal Prima Gozal
KONTAN.CO.ID - Jakarta Atma Jaya Institute of Public Policy (AJIPP) bersama Kontan Academy menyelenggarakan Policy Dialogue bertema Sustainable Transformation in Indonesia: The Future of ESG Policy and Leadership, Selasa (3/11). Kegiatan yang berlangsung di Gedung Yustinus, lantai 15, Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya, ini membahas perkembangan kebijakan Environmental, Social, and Governance (ESG) di Indonesia, arah regulasi keuangan berkelanjutan, serta peran kepemimpinan dalam mendorong transformasi organisasi.
Dalam sambutannya, Wakil Rektor Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya bidang Inovasi, Penelitian, Kerja Sama, dan Alumni, Prof. Rosdiana Sijabat, menyoroti pentingnya transformasi berkelanjutan di tengah perubahan iklim, perkembangan teknologi, ketidakpastian ekonomi global, ketimpangan, dan dinamika geopolitik. Ia menjelaskan bahwa transformasi tersebut perlu mencakup aspek ekonomi, sosial, lingkungan, dan digital.
Prof. Rosdiana juga menyampaikan pentingnya pertumbuhan ekonomi yang berkualitas dan inklusif, peningkatan produktivitas, penciptaan lapangan kerja, serta pengembangan ekonomi hijau. Menurutnya, pembangunan berkelanjutan perlu memastikan kesetaraan kesempatan, peningkatan kualitas sumber daya manusia, dan keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi dan perlindungan lingkungan.
Direktur Atma Jaya Institute of Public Policy, Salvatore Simarmata, dalam sambutannya memperkenalkan AJIPP sebagai lembaga riset kebijakan publik yang memiliki misi mewujudkan masyarakat yang lebih adil dan berkelanjutan. Ia menyampaikan bahwa Policy Dialogue merupakan bagian dari rangkaian kegiatan AJIPP untuk mempertemukan berbagai pemangku kepentingan dalam membahas isu-isu strategis.
Kegiatan ini sekaligus menjadi peluncuran Executive Education Program bertajuk Sustainable Development and ESG Leadership, yang diselenggarakan AJIPP bersama Kontan Academy. Program tersebut menjadi bagian dari upaya institusi dalam mendorong pengembangan pengetahuan dan kapasitas mengenai keberlanjutan.
Diskusi panel menjadi acara utama dengan menghadirkan sejumlah narasumber dari sektor keuangan, akademisi, dan praktisi keberlanjutan. Panel dipandu oleh Asnil Bambani Amri selaku Senior Editor Kontan, dengan menghadirkan Mariska Sukmajaya selaku Vice President bidang Sustainability CIMB Niaga, Dr. Irenius Dwinanto Bimo sebagai Dekan Fakultas Bisnis dan Inovasi Sosial Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya, Dr. Joko Siswanto selaku Direktur Keuangan Berkelanjutan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), serta Maria Nindita Radyati, Ph.D selaku President Director Institute for Sustainability and Agility.
Dalam diskusi, para narasumber membahas penerapan ESG di Indonesia, perkembangan regulasi keuangan berkelanjutan, serta tantangan dalam memastikan transparansi dan akuntabilitas pelaporan keberlanjutan. Pembahasan juga mencakup peran sektor perbankan dalam mendukung pembiayaan berkelanjutan dan mendorong praktik bisnis yang memperhatikan dampak lingkungan serta sosial.
Mariska Sukmajaya menjelaskan bahwa peran perbankan dalam keberlanjutan berkembang dari penyedia pendanaan menjadi mitra bagi perusahaan dalam meningkatkan ketahanan bisnis. Ia juga memaparkan berbagai pendekatan pembiayaan berkelanjutan, termasuk dukungan terhadap efisiensi energi dan energi bersih.
Irenius Dwinanto Bimo membahas pentingnya penyiapan sumber daya manusia yang berkualitas untuk mendukung implementasi ESG. Ia menjelaskan bahwa penerapan ESG membutuhkan kompetensi yang sesuai agar perusahaan dapat memenuhi ketentuan regulasi sekaligus mencapai tujuan keberlanjutan.
Selain itu, ia menyoroti perkembangan standar pelaporan keberlanjutan yang semakin terarah, termasuk adopsi standar internasional IFRS S1 dan S2 di Indonesia melalui Ikatan Akuntan Indonesia, yang dijadwalkan berlaku mulai 1 Januari 2027.
Sementara itu, Joko Siswanto memaparkan perkembangan regulasi keuangan berkelanjutan, termasuk evaluasi terhadap Peraturan OJK Nomor 51 Tahun 2017 tentang Penerapan Keuangan Berkelanjutan bagi Lembaga Jasa Keuangan, Emiten, dan Perusahaan Publik. Ia menjelaskan bahwa perkembangan kebijakan tersebut turut dipengaruhi oleh Undang-Undang Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan (UU PPSK) Tahun 2023, yang memperkuat landasan hukum penerapan keuangan berkelanjutan di Indonesia.
Dalam pemaparannya, Joko Siswanto juga melihat pentingnya dukungan kepemimpinan dalam penerapan kebijakan keberlanjutan di sektor jasa keuangan.
“Regulasi, standar, dan taksonomi sebaik apapun tidak akan bisa berjalan dengan maksimal kalau tidak ada dukungan dari semua pihak yang punya andil,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa komitmen pimpinan diperlukan untuk mengintegrasikan keberlanjutan ke dalam strategi bisnis, sehingga penerapannya tidak hanya dipandang sebagai kewajiban tambahan, tetapi menjadi bagian dari visi organisasi dalam menghadapi persaingan dan tantangan masa depan.
Pada penyampaiannya, Maria Nindita Radyati menjelaskan bahwa penerapan ESG perlu diintegrasikan ke dalam strategi dan operasional bisnis, bukan sekadar menjadi tambahan dalam kegiatan perusahaan. Ia menggarisbawahi bahwa penentuan materialitas ESG harus didasarkan pada penilaian risiko dan peluang yang dapat memengaruhi kinerja keuangan, operasional, serta hubungan perusahaan dengan karyawan, pelanggan, pemasok, dan komunitas. Menurutnya, perusahaan juga perlu mampu beradaptasi terhadap perubahan regulasi dan memberikan masukan kepada pemerintah untuk mendukung perbaikan kebijakan keberlanjutan.

Sebagai sesi penutup, Policy Dialogue menghadirkan keynote speech dari Dr. Frederika Widyasari Dewi selaku Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Dalam pemaparannya, ia menyoroti pentingnya penerapan Environmental, Social, and Governance (ESG) dalam pengelolaan risiko, menjaga kepercayaan, serta menciptakan nilai berkelanjutan bagi perusahaan.
Dr. Frederika menjelaskan bahwa perkembangan risiko iklim dan ketidakpastian ekonomi global semakin memengaruhi keputusan investasi serta pertumbuhan ekonomi jangka panjang. Ia juga menekankan bahwa penerapan ESG di Indonesia telah menjadi bagian dari strategi ekonomi jangka panjang, seiring dengan penguatan regulasi dan ekosistem keuangan berkelanjutan.
Menutup pemaparannya, Dr. Frederika menyampaikan apresiasi kepada Atma Jaya Institute of Public Policy dan Kontan atas penyelenggaraan kegiatan tersebut serta berharap diskusi dan kerja sama mengenai keberlanjutan dapat terus berlanjut.
Melalui kegiatan ini, Atma Jaya Institute of Public Policy dan Kontan Academy menghadirkan ruang diskusi bagi akademisi, regulator, praktisi, dan pelaku usaha untuk memperkuat pemahaman mengenai kebijakan ESG, keuangan berkelanjutan, serta peran kolaborasi dan kepemimpinan dalam mendorong transformasi berkelanjutan di Indonesia.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


