November
23
2020
     21:08

The Body Shop Indonesia: 50% Operasional Bisnis Beralih ke Online

The Body Shop Indonesia: 50% Operasional Bisnis Beralih ke Online
Publisher

Jakarta, 23 November 2020 – Saat ini, kebanyakan pelaku bisnis berada dalam masa transisi, dimana perkantoran dan pabrik serta tempat-tempat publik kembali beradaptasi dengan diberlakukannya Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) jilid 2. The Body Shop Indonesia merupakan salah satu organisasi yang mampu melakukan pivoting secara cepat dan efektif dalam beberapa bulan terakhir dan saat ini mulai kelihatan hasilnya. Mereka mengalihkan 40% penjualan mereka ke online dari yang semula mayoritas (98%) berasal dari toko offline dengan mengadopsi strategi online.

Sebagai salah satu intelligent enterprise di Kawasan Asia Tenggara dan yang terbesar kedua / ketiga di dunia setelah The Body Shop di Inggris, The Body Shop Indonesia berkomitmen penuh menjaga keberlangsungan bisnis mereka dengan berhasil mempertahankan 1.300 karyawannya untuk tetap produktif dan tidak akan melakukan lay-off terhadap para karyawannya. Perusahaan yang berasal dari Inggris yang bergerak di bidang industri kecantikan sejak tahun 1976 ini telah melewati tantangan pandemi COVID-19 dengan baik, dimana pada saat pertama kali PSBB dilakukan di bulan Maret 2020 90% toko offline ditutup dan sebagian besar dialihkan ke saluran online.

Transisi di era pandemi ini juga membawa beberapa hal baru bagi praktisi di bidang human resource. Mirna Harahap, GM Human Resource (HR), The Body Shop Indonesia mengatakan perusahaan berkolaborasi  dengan SAP untuk memanfaatkan penggunaan teknologi Human Resource yaitu SAP Qualtrics untuk dapat meningkatkan produktivitas karyawan.

Managing Director SAP Indonesia Andreas Diantoro menyatakan teknologi memiliki peranan penting agar bisnis bisa bertahan. Dapat kita lihat sendiri, di saat disrupsi terjadi akibat COVID-19, perusahaan-perusahaan yang telah menerapkan digital platform, dan “resource planning” yang mampu bertahan dan mampu melakukan penyesuaian pada bisnisnya dengan lebih baik.

“Dengan beberapa kemampuan yang dimiliki, SAP dapat membantu menyiapkan perusahaan menjadi sebuah perusahaan cerdas di berbagai sektor industri, serta memiliki solusi SAP SuccessFactors dan SAP Qualtrics Employee Engagement di bidang human resources,” kata dia.

Adopsi Teknologi HR Meningkat dengan Cepat
Mirna menyadari saat ini makin banyak perusahaan berinvestasi di bidang teknologi HR agar perusahaan bisa menavigasi karyawan dan mengimplementasikan kebijakan Work-From-Home (WFH) dengan baik. Adopsi teknologi di bidang manajemen HR maupun pengalaman berbelanja online di The Body Shop sendiri sedianya baru akan dilakukan 2 tahun mendatang, namun COVID-19 memaksa perusahaan melakukannya lebih cepat dari yang diperkirakan. Training yang selama ini dilakukan in class, dikarenakan Pandemi ini, akhirnya seluruh training termasuk Training Induction dan Product Knowledge dilakukan secara virtual.

Hal ini sejalan dengan Survey PwC baru-baru ini terkait teknologi HR yang menyatakan bahwa jika pada satu dekade lalu investasi di bidang teknologi HR berjalan lambat, tahun ini investasi di bidang ini sudah mencapai 148 miliar dollar AS dan dalam 1-2 tahun kedepan investasi teknologi di bidang akuisisi sumber daya manusia, pengalaman karyawan dan pemetaan keahlian akan terus meningkat. 74% dari total 600 pimpinan HR dan pimpinan TI HR meyakini investasi di bidang teknologi HR akan meningkat ke depan.

Mirna menambahkan, dengan situasi saat ini, prioritas mereka adalah terus berkembang bersama karyawan. Karyawan menjadi prioritas utama perusahaan dimana mereka saling mendukung satu sama lain untuk tetap fokus pada bisnis. Perusahaan juga melakukan survey ke karyawan untuk mengetahui bagaimana perasaan mereka, apa saja kendala yang dihadapi dan strategi yang diperlukan agar kebijakan WFH bisa  berjalan  lancar.

“Di pertengahan Mei kami menyelesaikan desain survey yang berisikan 2 pertanyaan dasar: Apa yang karyawan rasakan dan Apa yang karyawan kerjakan hari ini? Serta 5 hingga 7 pertanyaan snapshot tentang apa yang karyawan rasakan. Kami memperoleh feedback dan informasi dari survei tersebut dan semua itu dimungkinkan dengan SAP Qualtrics,” kata dia.
Mirna juga menggunakan SAP Qualtrics untuk memastikan kondisi kesehatan, mental, moral dan aktivitas para karyawannya. Untuk memberikan kenyamanan, manajemen pun berkomitmen untuk tidak melakukan lay off hingga saat ini.

Saat ini sekitar 100% karyawan sudah kembali ke toko dan sisanya kembali ke kantor. Tentunya dengan menerapkan sistem kerja shift 50-50 sesuai aturan pemerintah.

Halaman   1 2 Show All

Release Terkini


2021 © Kontan.co.id A subsidiary of KG Media. All Rights Reserved