March
05
2021
     23:38

Kilas Balik Kondisi Ekonomi Makro dan Peluang Fintech Indonesia di Tahun 2021

Kilas Balik Kondisi Ekonomi Makro dan Peluang Fintech Indonesia di Tahun 2021

Jakarta, 05 Maret 2021 - Dalam diskusi Seminar Ekonomi Makro yang digelar Amartha, Bhima Yudhistira, Ekonom dan Peneliti INDEF memaparkan ada tiga peran fintech yang bisa dimanfaatkan oleh para pelaku pengusaha fintech untuk mengambil peran dalam Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) yaitu fokus menumbuhkan literasi finansial, the internet of cash, dan melakukan lebih banyak sinergi dengan perusahaan non-fintech.

“2021 gimana? 2021 sebenarnya feelingnya masih mix, jadi masih banyak pengusaha yang masih mix,” jawab Bhima saat ditanyai mengenai prospek ekonomi Indonesia di tahun 2021 pada Jumat (19/02) lalu.

Seperti yang kita ketahui bersama, pandemi virus corona yang menjangkit masyarakat Indonesia selama satu tahun terakhir berdampak pada banyak sektor, terutama ekonomi nasional. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pertumbuhan ekonomi Indonesia dari kuartal I - III mengalami kontraksi sebesar minus 2.03% year on year (yoy). “Yang menjadi masalah ekonomi kita minus 2 persen, salah satunya karena orang gak belanja atau orang mengurangi belanjanya.” jelas Bhima.

Meskipun demikian, sejak bulan Agustus hingga Desember, Bhima melihat adanya euforia belanja masyarakat yang dibuktikan dengan data kepercayaan konsumen yang mengalami kenaikan. Katanya, pengusaha yang bergerak di digital lah yang relatif survive dan ada penambahan demand di tengah penurunan ekonomi di tahun 2020.

Pemulihan Ekonomi melalui Fintech, Adakah Peluangnya?

Adanya isu vaksinasi sejak Desember lalu seperti membawa harapan baru dalam rangka pemulihan ekonomi nasional. Pemerintah sendiri telah mengeluarkan banyak kebijakan seperti restrukturisasi kredit dan bantuan sosial untuk mempercepat PEN.

Bicara soal pemulihan ekonomi, Bhima membeberkan ada tiga sektor lapangan usaha yang mengalami pertumbuhan ditengah pandemi, yaitu informasi dan komunikasi 10.58%, jasa keuangan dan asuransi 3.25%, dan pertanian sebesar 1.75%. Dengan demikian ketiga sektor ini dapat dioptimalkan dengan baik, terutama perpaduan antara informasi dan komunikasi dengan jasa keuangan, yang mana kini dikenal sebagai financial technology atau fintech.

“Sekarang kalau kita melihat hanya 14% UMKM yang gabung ke platform digital, jadi sebenarnya 86% itu masih banyak yang melakukan transaksi secara fisik. Jadi ini momentum untuk UMKM yang mayoritas generasi X dan Boomer untuk menjalankan bisnis secara digital. Mereka mulai diajarin sama anaknya gimana caranya menggunakan smartphone yang baik, gimana bikin pinjaman di fintech tapi ke fintech yang responsible, fintech yang kredibel. Nah itu ke depan trennya kelihatannya, mau pandemi berlanjut atau pun selesai, kata Bappenas ini akan menjadi tren yang sifatnya permanen.” jelas Bhima.

Menanggapi perkataan Bhima, Aria Widyanto selaku Chief Risk and Sustainability Officer (CRSO) Amartha menyatakan bahwa tren ini adalah kesempatan untuk Amartha mendorong visi dan misinya untuk mewujudkan kesejahteraan merata di masyarakat piramida bawah. “Ini adalah opportunity buat kita untuk membantu para mitra usaha agar mereka bisa bertransformasi ke digital karena mau tidak mau ini adalah sebuah keniscayaan bukan hanya masalah survival tetapi kedepannya kita memang harus bisa mengadopsi dan mengadaptasi platform digital.”

Di akhir diskusi, Bhima menambahkan, sebanyak 68,5% fintech hanya berkolaborasi dengan kurang dari 5 institusi keuangan. Perlu akomodasi regulasi yang mempercepat kolaborasi fintech dengan perusahaan non-fintech.


Release Terkini

Terpopuler


2021 © Kontan.co.id A subsidiary of KG Media. All Rights Reserved