July
23
2019
     17:04

Kemendag Jembatani Pelaku Usaha Jawa Timur Perluas Pasar Ekspor ke Wilayah Asia Pasifik, Afrika, dan Timur Tengah

Kemendag Jembatani Pelaku Usaha Jawa Timur Perluas Pasar Ekspor ke Wilayah Asia Pasifik, Afrika, dan Timur Tengah
Publisher
Kementerian Perdagangan Republik Indonesia

Surabaya, 23 Juli 2019 – Kementerian Perdagangan melalui Direktorat Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional berupaya menjembatani para pelaku usaha Jawa Timur dalam memperluas pangsa pasar produk Jawa Timur ke kawasan Asia Pasifik, Afrika, dan Timur Tengah. Hal ini, disampaikan Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional Arlinda pada pembukaan seminar Aktivasi Kerja Sama Pengembangan Ekspor Ke Kawasan Asia Pasifik, Afrika, dan Timur Tengah di Surabaya, Jawa Timur, pada Rabu (17/7).

Pada seminar turut hadir Wakil Gubernur Provinsi Jawa Timur Emil Dardak dan Wakil Ketua KADIN Komite Iran Rudi Rajab.

“Sebagai unit yang bertugas mengembangkan dan mempromosikan ekspor Indonesia, Ditjen PEN berupaya menjembatani pelaku usaha Jawa Timur dalam memperluas pasar, di antaranya ke kawasan Asia Pasifik, Afrika, dan Timur Tengah. Upaya tersebut salah satunya dengan menghadirkan mitra kerja dari negara tujuan ekspor,” tutur Arlinda.

Menurut Arlinda, Jawa Timur merupakan salah satu provinsi yang mendapatkan perhatian khusus dari pemerintah pusat. Utamanya bagi pengembangan ekonomi nasional, potensi wilayah, keberagaman industri, serta kemampuan sumber daya manusia yang kreatif dan penuh daya saing.

“Seminar ini dihadiri sekitar 200 pelaku usaha Jawa Timur yang bergerak di sektor makanan dan minuman, tekstil, kerajinan, dan perhiasan. Hal ini menunjukkan bahwa pelaku usaha Jawa Timur memiliki minat yang besar untuk mengembangkan bisnisnya ke pasar internasional,” ujar Arlinda.

Direktur Kerja Sama Ekspor Marolop Nainggolan menambahkan, pada seminar ini Ditjen PEN menghadirkan narasumber dari PT YAS Export Internasional, perusahaan yang mengoperasikan Lulu Hypermart Jakarta dan AEON, Co.Ltd. Pada seminar ini disampaikan prosedur dan persyaratan menjadi penyuplai di jaringan ritel Lulu supermarket dan AEON Supermarket yang tersebar di berbagai negara di dunia.

“Dengan antusiasme yang cukup tinggi, diharapkan pelaku usaha Jawa Timur terpacu mengembangkan kualitas produknya sesuai dengan standar dan prosedur yang ditentukan dua jaringan supermarket internasional tersebut,” tandas Marolop.

Dalam seminar ini juga disampaikan, untuk menembus pasar di kawasan Asia Pasifik, Afrika, dan Timur Tengah eksportir harus menganalisis kondisi pasar tujuan ekspor serta memenuhi standar dan prosedur yang berlaku di negara tersebut.

“Banyak produk Indonesia yang mendapat permintaan yang tinggi dari negara di kawasan Asia Pasifik, misalnya Jepang. Produk yang diminati Jepang antara lain produk perikanan, agroindustri, dan tekstil,” ungkap Marolop.

Marolop menambahkan, beberapa hal yang masih harus diperhatikan para pelaku usaha Indonesia antara lain material/bahan produksi, desain produk, dan pengemasan. “Apabila pelaku usaha Indonesia serius memperluas bisnisnya ke pasar global, perlu disusun perencanaan yang matang. Selain itu, pelaku usaha Indonesia harus menentukan target negara ekspor sehingga produk yang dihasilkan sesuai dengan pasar yang ingin dituju,” jelasnya.

Senada dengan hal tersebut, Emil mengungkapkan, para pelaku usaha yang berminat untuk berekspansi ke pasar global harus membuat business plan agar kemampuan produksi dan kualitas produk dapat terus dipertahankan.

“Seminar ini menjadi sarana yang tepat untuk meningkatkan kapasitas pengetahuan pelaku usaha Jawa Timur mengenai hal-hal yang perlu dipersiapkan untuk penetrasi ke pasar global,” imbuh Emil.

Sementara itu Rudi Rajab menambahkan, ekspor Indonesia dengan tujuan pasar tradisional harus terus berjalan. Namun, sudah saatnya pelaku usaha Indonesia melirik pasar nontradisional, contohnya Iran. Iran merupakan pasar nontradisional yang awam bagi pelaku usaha Indonesia. Namun, negara ini merupakan pasar yang menjanjikan untuk beberapa komoditas ekspor Indonesia seperti minyak sawit, bitumen, petrokimia, dan gas.

“Meskipun Amerika Serikat menerapkan sanksi, perdagangan internasional Iran masih terus berjalan. Namun, yang harus diperhatikan para eksportir adalah pebisnis Iran masih menggunakan sistem pembayaran tunai,” terangnya.


Contact Information 1:
Fajarini Puntodewi

pusathumas@kemendag.go.id
021-3860371

Release Terkini