September
18
2022
     12:48

Kemenperin Sebut Ekspor Industri Manufaktur Terus Mengalami Peningkatan

Kemenperin Sebut Ekspor Industri Manufaktur Terus Mengalami Peningkatan
ILUSTRASI. Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita

Reporter: Dimas Andi | Editor: Anna Suci Perwitasari

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Industri pengolahan mencatatkan nilai ekspor sepanjang Januari-Agustus 2022 sebesar US$ 139,23 miliar atau naik 24,03% dibandingkan periode yang sama pada tahun lalu. Sektor industri tetap memberikan kontribusi paling besar dengan sumbangsihnya hingga 71,55% persen terhadap total nilai ekspor nasional yang menembus US$ 194,60 miliar.

“Kinerja ekspor dari sektor industri manufaktur masih terus melambung, meskipun berada di tengah risiko ketidakpastian kondisi global yang membayangi ekonomi nasional,” ujar Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita dalam siaran pers di situs Kementerian Perindustrian, Minggu (18/9).

Agus menegaskan, pengapalan sektor industri manufaktur konsisten memberikan andil yang besar terhadap surplus neraca perdagangan Indonesia. Ini terlihat dari hasil neraca perdagangan Indonesia yang berhasil surplus selama 28 bulan berturut-turut, sehingga membuktikan bahwa kebijakan pemerintah dalam pemulihan ekonomi berada pada jalur yang tepat.

Merujuk data Badan Pusat Statistik (BPS), neraca perdagangan secara kumulatif pada Januari-Agustus 2022 mengalami surplus sebesar US$ 34,92 miliar atau tumbuh 68,6% dibandingkan periode sama tahun lalu. Surplus neraca perdagangan tidak terlepas dari program hilirisasi industri yang terus pemerintah jalankan guna meningkatkan nilai tambah sumber daya alam di Indonesia.

Baca Juga: Bangun Ekosistem Industri 4.0,Kemenperin Dukung Pengembangan Silicon Valley Indonesia

Nilai ekspor komoditas turunan nikel meningkat signifikan sejak pemerintah memberlakukan pelarangan ekspor bijih nikel mulai awal tahun 2020. Hal ini terlihat dari nilai ekspor komoditas turunan nikel pada Januari-Agustus 2022 yang mencapai US$ 12,35 miliar atau tumbuh hingga 263% jika dibandingkan tahun 2019, sebelum pemberlakuan larangan ekspor bijih nikel yang hanya mencapai US$ 3,40 miliar.

“Enam tahun yang lalu, ekspor kita dari nikel kira-kira hanya US$ 1,1 miliar. Sedangkan, pada tahun 2021 sudah mencapai US$ 20,9 miliar. Artinya, nilai tambah lompatannya hingga 19 kali. Oleh karena itu, pemerintah terus memacu tumbuhnya industri smelter yang terbukti memberikan efek berganda yang luas bagi perekonomian nasional,” papar Menperin.

BPS juga mencatat, industri pengolahan menjadi kontributor terbesar jika dilihat menurut sektornya dengan nilai ekspor mencapai US$ 19,79 miliar pada Agustus 2022. Pengapalan sektor manufaktur ini mengalami pertumbuhan 13,49% dibandingkan dengan nilai posisi ekspor industri pengolahan pada Juli 2022.

Kenaikan ekspor ini didorong oleh komoditas minyak kelapa sawit, besi baja, peralatan listrik, kendaraan dan bagiannya, serta turunan nikel. Sampai saat ini, Kemenperin fokus memacu hilirisasi industri berbasis agro, bahan tambang mineral, serta migas dan batubara.

Menurut Agus, banyak manfaat yang telah didapatkan Indonesia dari implementasi kebijakan hilirisasi, antara lain menghasilkan nilai tambah, memperkuat struktur industri, menyediakan lapangan pekerjaan, dan memberikan peluang usaha. “Melalui hilirisasi, Indonesia tidak lagi menjual barang mentah, namun sudah diolah baik itu produk setengah jadi maupun menjadi produk akhir,” ujar dia.

Baca Juga: Kemenperin: Investasi Cargill di Pabrik Pati Jagung Dapat Mensubstitusi Impor

Pemerintah telah mampu menjaga kinerja ekonomi Indonesia tetap tumbuh pada kuartal II-2022 sebesar 5,44% secara tahunan (year on year). Pertumbuhan ini lebih baik dibandingkan negara lain yang mengalami perlambatan ekonomi pada periode yang sama, seperti Amerika Serikat, Jerman, Prancis, Spanyol, Korea Selatan, dan China.

Di samping itu, kondisi pengoperasian sektor manufaktur Tanah Air terus membaik dalam 12 bulan terakhir. Hal ini tercermin dari indeks Purchasing Managers’ Index (PMI) Manufaktur Indonesia bulan Agustus 2022 yang mencapai 51,7 atau menguat dari angka 51,3 di bulan sebelumnya.

“PMI Manufaktur Indonesia terus menunjukkan peningkatan di tengah menurunnya indeks tersebut di negara-negara Asia lainnya, seperti Korea Selatan (49,8 di Juli 2022 menjadi 47,6) dan Jepang (52,1 pada Juli 2022 menjadi 51,5),” pungkasnya.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Release Terkini


2022 © Kontan.co.id A subsidiary of KG Media. All Rights Reserved