April
09
2026
     20:48

Di Tengah Ancaman Kenaikan BBM, Perusahaan Mulai Ubah Strategi Energi

Di Tengah Ancaman Kenaikan BBM, Perusahaan Mulai Ubah Strategi Energi
Dok. Jarwinn.com

Reporter: Adv Team | Editor: Indah Sulistyorini

KONTAN.CO.ID - Jakarta, April 2026 - Ketidakpastian geopolitik kembali mengingatkan dunia pada kerentanan sistem energi global. Ketegangan yang terjadi di kawasan Timur Tengah, termasuk konflik yang melibatkan Iran dan negara-negara Barat, memicu kekhawatiran pasar terhadap stabilitas pasokan energi dunia.

Menurut U.S. Energy Information Administration (EIA), sekitar 20 persen konsumsi minyak dunia melewati Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis di kawasan tersebut. Setiap gangguan terhadap jalur ini berpotensi memicu volatilitas harga energi global yang berdampak pada berbagai sektor ekonomi.

Dalam beberapa waktu terakhir, tekanan terhadap harga energi kembali menjadi perhatian. Wacana penyesuaian harga bahan bakar minyak (BBM) di dalam negeri mencerminkan bagaimana dinamika global dapat berimbas pada struktur biaya energi nasional. Bagi pelaku usaha, kondisi ini tidak hanya berdampak pada biaya operasional, tetapi juga menuntut kesiapan dalam menghadapi ketidakpastian energi jangka panjang.

Pandangan ini sejalan dengan arah kebijakan Kementerian ESDM yang menekankan pentingnya ketahanan energi, transisi energi, serta optimalisasi pemanfaatan energi baru terbarukan di tengah dinamika global. Bagi dunia usaha, hal ini semakin menegaskan bahwa diversifikasi energi bukan lagi sekadar langkah efisiensi, melainkan bagian dari strategi menjaga keberlanjutan dan stabilitas operasional.

Di sisi lain, kebutuhan energi Indonesia terus meningkat seiring pertumbuhan ekonomi dan ekspansi sektor industri. Data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menunjukkan bahwa konsumsi energi nasional masih didominasi oleh energi fosil. Sementara itu, porsi energi terbarukan dalam bauran energi nasional baru mencapai sekitar 13 persen pada 2023, masih cukup jauh dari target 23 persen pada 2025.

Padahal, Indonesia memiliki potensi energi terbarukan yang sangat besar, khususnya energi surya. Kajian Kementerian ESDM menunjukkan potensi energi surya nasional mencapai sekitar 3.200 gigawatt, namun pemanfaatannya masih sangat terbatas.

Kondisi tersebut menempatkan energi sebagai salah satu faktor strategis dalam pengelolaan bisnis. Dalam beberapa tahun terakhir, semakin banyak perusahaan mulai meninjau kembali strategi energi mereka, seiring meningkatnya ketidakpastian biaya dan tuntutan efisiensi operasional.

Selain itu, perhatian terhadap praktik bisnis berkelanjutan juga semakin menguat. Investor global dan lembaga keuangan kini semakin mempertimbangkan faktor Environmental, Social, and Governance (ESG) dalam menilai kinerja perusahaan, termasuk dalam aspek pengelolaan energi.

Dalam konteks tersebut, perusahaan mulai mempertimbangkan berbagai pendekatan untuk mengelola kebutuhan energi secara lebih efisien dan berkelanjutan.

“Perusahaan saat ini mulai melihat energi bukan hanya sebagai kebutuhan operasional, tetapi sebagai bagian dari strategi jangka panjang. Ketika biaya energi menjadi semakin tidak pasti, pendekatan terhadap pengelolaannya pun ikut berubah,” ujar Wijaya Rusli, perwakilan manajemen Jarwinn Solar Panel.

Salah satu pendekatan yang mulai dilirik adalah pemanfaatan energi terbarukan, termasuk energi surya melalui instalasi Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS), baik untuk kebutuhan operasional maupun sebagai bagian dari strategi efisiensi energi.

 

 

 

Selain sistem PLTS konvensional, sebagian perusahaan juga mulai mempertimbangkan pendekatan hybrid, yaitu sistem yang menggabungkan energi surya dengan sumber listrik utama dan/atau penyimpanan baterai. Pendekatan ini dinilai dapat membantu menjaga stabilitas pasokan energi sekaligus mengoptimalkan efisiensi penggunaan listrik dalam jangka panjang.

 

Jarwinn Solar Panel merupakan perusahaan penyedia solusi energi surya yang telah beroperasi sejak 2017 dan memiliki pengalaman dalam berbagai proyek instalasi PLTS di sektor industri, komersial, hingga fasilitas publik di berbagai wilayah Indonesia.

Perusahaan ini telah terlibat dalam berbagai proyek instalasi panel surya di sejumlah perusahaan nasional, antara lain di lingkungan Astra Honda Motor, Bank BRI, Watsons, FIF Group, serta jaringan ritel seperti Alfamart.

Menurut Wijaya Rusli, minat terhadap energi surya dari sektor korporasi dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan tren yang meningkat, terutama didorong oleh kebutuhan efisiensi biaya energi, perhatian terhadap aspek keberlanjutan, serta upaya mengelola risiko energi dalam jangka panjang.

Sejumlah perusahaan dari berbagai sektor, mulai dari manufaktur, ritel hingga jasa, mulai memanfaatkan panel surya di area pabrik, perkantoran, gudang maupun fasilitas komersial mereka.

“Energi surya semakin dipandang sebagai salah satu opsi dalam pengelolaan energi perusahaan, terutama dalam konteks efisiensi dan keberlanjutan,” ujar Wijaya Rusli.

Dengan ketersediaan sinar matahari yang melimpah di wilayah tropis seperti Indonesia, energi surya dinilai memiliki potensi besar untuk dikembangkan, termasuk melalui pendekatan yang lebih fleksibel seperti sistem hybrid yang kini mulai menjadi pertimbangan dalam strategi energi perusahaan.

Dalam lanskap bisnis yang semakin dinamis, pengelolaan energi tidak lagi sekadar aspek operasional, tetapi menjadi bagian dari strategi perusahaan dalam membangun sistem yang lebih efisien, tangguh, dan berkelanjutan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Release Terkini


2026 © Kontan.co.id A subsidiary of KG Media. All Rights Reserved